Rabu, 13 Oktober 2010

Words (again)

Lagi ingin menulis banyak hal, tapi terbentur privasi dan ketidaknyamanan kamu.

Kamu ingat mawar merah yang kamu berikan 3 hari yang lalu ? warna hitamnya mulai muncul, dan badannya mulai membungkuk. It's okay, itu memang resiko, walaupun aku mengganti air-nya setiap hari mawar itu tetap akan mati pada akhirnya.

Aku tidak tau kenapa aku ngotot memintamu untuk memberikanku bunga beberapa waktu lalu. Kemudian kau tiba-tiba memberikannya, di saat yang tepat aku rasa, saat aku sedikit kecewa padamu. Surprise and grateful, itu yang ingin aku katakan terus di hari itu. You made me happy.

Tapi saat 3 hari berlalu, aku merasa tidak memerlukan mawar itu lagi. Yang aku inginkan kamu, ah terlalu tinggi aku berkata. Kamu memang belum menjadi milikku, aku hanya bagian kecil dari hidupmu, seperti yang kamu bilang. Tapi aku tetap menginginkanmu. Apa daya, banyak masalah yang belum terselesaikan dalam hidupmu dan hidupku juga.

Tapi (lagi) aku tidak mau menyerah, berharap kamu juga tidak akan menyerah. Saat 2 hari lalu kamu bilang, "Jangan sakiti aku" aku benar-benar bahagia, sumpah, aku tidak bohong. Aku merasa, perasaanmu benar-benar sudah utuh padaku. Tapi besoknya kau menjatuhkan perasaan bungah itu lagi. Sad.

I don't know, Honey ... I'm trying to not loving you too much, like you did (or you say, you did) But somehow I think you're the one who made me like this, too proud of you, deeply in love with you. I try to running away from you, but I can't. You just too special. But maybe (just maybe) you're not feeling the same way. Sad.