Kamis, 21 Oktober 2010

Perempuan itu

Entah bagaimana ceritanya ... tapi yang aku baca dan coba pahami, bahwa perjuangan tidak berakhir selama 10 tahun. Entah dengan ketidaksetujuan orang-orang di sekitarnya, orang tuanya mungkin, tapi dia tidak menyerah. Membuatku ingin bertahan juga padanya. Apa yang membuatku sangat yakin padanya, ya Allah ? Katakan padaku ? Begitu banyak laki-laki yang jauh lebih "sempurna" dibanding dirinya ... kenapa aku memilihnya ??

Minggu, 17 Oktober 2010

Minggu sore

Harapan yang paling aku inginkan saat ini hanya memelukmu, menciummu mungkin, tapi yang jelas melihat senyumanmu yang paling penting.
ah ya ... serendah itu aku menilai diriku, sangat jatuh di depanmu.
Kapankah kau yang melakukan itu padaku, meu sol ?
xpasti

Sabtu, 16 Oktober 2010

Maaf aku egois hari ini

Menjadi egois itu pilihan semua orang.
Biarkan aku egois saat ini, di saat kamu bersenang-senang, tapi aku disini sendirian, tanpa teman.
Aku merasa cemburu dengan kebahagiaanmu.
Menurutku itu sama sekali normal.
Sangat Normal
Itu sudah ....

And damn, I'm too much missing you, meu sol ... ~.~"

Kamis, 14 Oktober 2010

Absurd

Rasa rindu itu absurd, saat aku bilang aku merindukanmu dengan sangat aku tidak bisa merealisasikannya dengan menemuimu, karena atas dasar apa ? Ketidaknyamananku pada orang tuaku ? ah entahlah, sepertinya begitu mudah saat kita tinggal berdekatan, kita ada di satu area, satu area yang mungkin hanya perlu jalan kaki saja untuk bisa bertemu. Tapi itu belum terjadi, dan tidak akan terealisasi seandainya kita tidak mengikrarkan hubungan kita ke jenjang yang lebih dari sekedar pacaran.

Kenapa absurd ? Karena saat akhirnya aku bertemu denganmu, aku tidak mengekspresikannya dengan benar. I stud there. Cuma sekali-sekali memandang kamu. Holding hands if it's particular. And then what ? Kenapa rasa rindu itu ada ? Kenapa rasa rindu itu terlalu menggebu-gebu?
Kenapa harus ada "kita", cuma Tuhan yang tau jawabnya.

Damn, obrolanku mulai ngalor ngidul, I just missing you right now ... saat kita bertemu ? entahlah, mungkin aku hanya ingin melihatmu tersenyum. Itu saja.

Rabu, 13 Oktober 2010

Words (again)

Lagi ingin menulis banyak hal, tapi terbentur privasi dan ketidaknyamanan kamu.

Kamu ingat mawar merah yang kamu berikan 3 hari yang lalu ? warna hitamnya mulai muncul, dan badannya mulai membungkuk. It's okay, itu memang resiko, walaupun aku mengganti air-nya setiap hari mawar itu tetap akan mati pada akhirnya.

Aku tidak tau kenapa aku ngotot memintamu untuk memberikanku bunga beberapa waktu lalu. Kemudian kau tiba-tiba memberikannya, di saat yang tepat aku rasa, saat aku sedikit kecewa padamu. Surprise and grateful, itu yang ingin aku katakan terus di hari itu. You made me happy.

Tapi saat 3 hari berlalu, aku merasa tidak memerlukan mawar itu lagi. Yang aku inginkan kamu, ah terlalu tinggi aku berkata. Kamu memang belum menjadi milikku, aku hanya bagian kecil dari hidupmu, seperti yang kamu bilang. Tapi aku tetap menginginkanmu. Apa daya, banyak masalah yang belum terselesaikan dalam hidupmu dan hidupku juga.

Tapi (lagi) aku tidak mau menyerah, berharap kamu juga tidak akan menyerah. Saat 2 hari lalu kamu bilang, "Jangan sakiti aku" aku benar-benar bahagia, sumpah, aku tidak bohong. Aku merasa, perasaanmu benar-benar sudah utuh padaku. Tapi besoknya kau menjatuhkan perasaan bungah itu lagi. Sad.

I don't know, Honey ... I'm trying to not loving you too much, like you did (or you say, you did) But somehow I think you're the one who made me like this, too proud of you, deeply in love with you. I try to running away from you, but I can't. You just too special. But maybe (just maybe) you're not feeling the same way. Sad.